Sejarah Singkat Perjuangan Semasa Hidup K.H. Fakhrurozi, Pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Wadil' Ulum Sukalilah
![]() |
| Photo semasa hidup K.H. Fakhrurozi, Pendiri Pondok Pesantren Wadil' Ulum Sukalilah |
Ma’sum
lahir pada tahun 1920 Masehi di Cianjur tepatnya di Tanjung Kecamatan
Kadupandak. Ma’sum adalah nama waktu usia dini K.H. Fakhrurozi, yang kemudian
genap usianya yang ke 5 tahun BA’A Tanjung yang merupakan orangtua Ma’sum,
mengganti nama puteranya dari Ma’sum menjadi Fakhrurozi. Pada usia itu juga (usia
5 tahun) mulai mengenyam pendidikan formal, atau pada masa itu dikenal dengan
nama Sekolah Rakyat.
Yang
dimana sekolah rakyat ini adalah sekolah yang didirikan oleh belanda pada tahun
1602 untuk anak-anak indonesia dengan tujuan untuk menghasilkan
pegawai-pegawai rendahan baik untuk pegawai negeri maupun pegawai swasta.
Pembukaan sekolah itu didorong oleh kebutuhan praktis berkaitan dengan
pekerjaan di berbagai bidang dan kejuruan. Selain itu tujuan utamanya adalah
untuk lebih memperkuat kedudukan kolonial belanda di Indonesia.
Kemudian
setelah mengenyam pendidikan 5 tahun lamanya, pada tahun 1930 Fakhrurozi mulai
melakukan riadhoh. selanjutnya Fakhrurozi memulai mempelajari teknik melawan
dan mengusir penjajah, dalam hal ini belanda. tidak lama, Fakhrurozi kembali
melakukan Riadhoh dan lanjut menimpa
ilmu agama di Pondok Pesantren Ciharashas.
Pada
tahun 1935 Fakhrurozi berangkat ke tanah suci Makkah untuk menunaikan Rukun
Islam yang ke 5 yaitu melakukan Haji dan untuk memperdalam Ilmu Agama disana.
Tahun 1942 K.H. Fakhrurozi kembali ke Tanah Air untuk berjuang bersama Rakyat
Indonesia melawan penjajah.
Dengan karomah yang diberikan Allah SWT kepadanya,
pada saat melawan
penjajah di cibeber Cianjur. K.H.
Fakhrurozi seringkali mati langkah saat
terkepung
penjajah, namun selalu bisa meloloskan diri. Suatu
saat K.H.
Fakhrurozi tertangkap oleh penjajah dan di
siksa, dipopor, digusur
menggunakan mobil kurang lebih sekitar 19 km. namun atas pertolongan Allah SWT, K.H.
Fakhrurozi tidak merasakan kesakitan yang seharusnya bisa
dirasakan oleh orang biasa. K.H.
Fakhrurozi merasakan kenikmatan saat diperlakukan tidak
manusiawi oleh colonial tersebut.
Setelah digusur kurang lebih sekitar 19 km K.H.
Fakhrurozi disekap, dimasukan kedalam penjara yang
didalamnya adalah sebuah bak yang isinya dipenuhi oleh lintah, dengan
kondisi ruang tahanan gelap gulita, tidak terlihat sinar matahari sedikitpun.
selama 63 hari K.H.
Fakhrurozi ditahan Tapi tidak ada satupun lintah yang
menyengat. Dan malah K.H. Fakhrurozi merasakan kenyamanan dan kenikmatan kembali.
Tahun
1945 Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia. Rakyat yang ditahan oleh colonial termasuk K.H.
Fakhrurozi dibebaskan. Dan K.H. Fakhrurozi kembali
ke kampung halamannya Tajung Kadupandak
kembali berkumpul bersama keluarga dan orangtuanya.
Suatu
hari BA’A Tanjung di datangi oleh Para Tokoh Agama dari sagaranten, yang maksud kedatangannya Tokoh
Agama dari sagaranten tersebut untuk melaporkan
kondisi wilayahnya yang dimana rakyat dan umat
islam di sagaranten terus mendapat tekanan dari jawara antek-antek kolonial
yang tersisa.
Perjuangan K.H. Fakhrurozi tak kunjung usai, bahkan
setelah Indonesia meraih cita-citanya mendapat kemerdekaan. Karena pada
tahun 1948 K.H. Fakhrurozi ditugaskan oleh ayahnya (BA’A Tanjung) untuk hijrah
ke Kecamatan Sagaranten Sukabumi. Akhirnya K.H. Fakhrurozi menjalankan tugas
yang diperintahkan oleh ayahnya dan menikah dengan Hj. Maryama Jamah. Yang dimana Hj. Maryama Jamah adalah santri
BA’A Tanjung yang berasal dari Cipetir Kecamatan Sagaranten masa itu, yang
sekarang menjadi Kecamatan Cidadap.
Diawal perjuangannya di daerah sagaranten, tepatnya
pada tahun 1949 K.H.
Fakhrurozi mendirikan Pondok Pesantren
Wadil’Ulum Sukalilah. Selain mengurus santri, K.H.
Fakhrurozi juga berperan aktif sebagai tokoh agama yang bergerak
dalam menjaga keamanan wilayah dari ancaman penjajah yang masih tersisa di
perkebunan cikasintu.
Tidak sampai disitu. Peran hidupnya dalam sejarah
perjuangan kemerdekaan, Khusunya di daerah Kecamatan Sagaranten berlanjut pada
peristiwa yang termasuk kedalam peristiwa paling bersejarah di Indonesia. Yakni
operasi penumpasan G30S/PKI pada tahun 1965
yang berbuntut sampai pada tahun 1966. Di daerah Sagaranten dan sekitarnya, K.H.
Fakhrurozi juga kembali berperan sebagi tokoh agama yang
menggerakan masyarakat dalam
penumpasan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesi (G30S/PKI).
Tahun
1978 K.H. Fakhrurozi kedatangan tamu dari aparat ABRI yang
menawarkan kemewahan dan kenyamanan sebagai bentuk ucapan terimakasih atas
perjuangan yang telah dilakukan oleh K.H. Fakhrurozi. Namun tanpa berfikir panjang K.H. Fakhrurozi
menolak penawaran tersebut, jawabannya karena
perjuangan melawan, mengusir
penjajah dan berperan penting dalam penumpasan Gerakan Sparatis Partai Komunis Indonesia yang
dilakukan olehnya semata-mata hanya ingin mendapatkan ketenangan dan
kenyamanan dalam beribadah dan mendapat kebebasan
dalam mengembangkan
dan menyebarluaskan
Ajaran Islam.
Setelah segala kekisruhan yang terjadi di Indonesia usai,
pendiri Pondok Pesantren Wadil’ Ulum Sukalilah ini melanjutkan peran perjuangannya. Bukan kembali berperan melawan kekisruhan, malinkan berperan
dalam memperjuangkan pembangunan infrastruktur daerah. Tahun
1980, K.H. Fakhrurozi memperjuangkan pembangunan jalan
cibarengkok – Kadupandak dan pembangunan
jembatan Cibuni yang menghubungkan Sekabumi Selatan dengan Cianjur Selatan.
Ada satu cerita lagi yang terungkit dari sejarah hidup
K.H.
Fakhrurozi. Yang dimana
cerita ini hampir sama dengan kisah
mukjizat Nabi Musa
yang membelah laut merah dengan tongkatnya. Suatu hari K.H. Fakhrurozi berjalan
dari Sukalilah mau mengunjungi orangtunya di Tanjung Kadupandak. K.H.
Fakhrurozi sampai di tepi sungai cibuni. setibanya ditepian sungai, K.H.
Fakhrurozi terhenti tidak melanjutkan perjalanannya karena arus sungai sangat
deras tidak memungkinkan untuk dilewati. K.H. Fakhrurozi diam beberapa jam di tepi sungai menunggu orang lain
yang yang mungkin akan menyebrang sungai juga. Setelah beberapa jam
menunggu, akhirnya ada beberapa orang yang datang dan orang yang datang
tersebut kebingungan saat melihat derasnya air sungai. K.H. Fakhrurozi
mengambil ranting, ranting tersebut digoreskan ke air sungai. dengan kekuasaan
Allah SWT aliran air sungai terhenti dan membentuk bendungan dengan sendirinya.
Saat air sungai membendung, K.H. Fakhrurozi bersama yang lainnya menyebrangi
sungai. Setelah sampai ditepi sungai sebrangnya, air sungai yang semula
membendung kembali mengalir dengan begitu derasnya.
Dari hasil pernikahannya dengan Hj.
Maryama Jamah, K.H. Fakhrurozi memiliki putera-puteri yang meneruskan
perjuangannya dalam mengasuh dan mengelola Pondok Pesantren Wadil’ Ulum
Sukalialh. K.H. Fakhrurozi mendapat 8 orang putera, yaitu :
1.
H. Syu’eb Fakhru (H.
Uep)
2.
Hj. Ai
3.
Ust. Daud Falah (Kg
Dafah)
4.
K.H. Maknun
5.
Ustajah Ninis
6.
Ustajah Oob
7.
Ust. Sabik
K.H.
Fakhrurozi wafat pada Malam Jum’at tanggal 26 Zulhijjah tahun 1416 H / 12 Mei
1996 M.
Sumber: Ust. Sabik (Putera K.H. Fakhrurozi sekaligus Pengelola Pondok Pesantren Wadil' Ulum Sukalilah)
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ وَرَّخَ مُسْلِمًا فَكَأَ نَّمَا اَحْيَاهُ وَمَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَ نَّمَا زَارَنِى وَمَنْ زَارَنِى بَعْدَ وَفَاتِى وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِى
. روه ابو داود وترمذى
“Barang siapa membuat
tarekh (Biografi) seorang muslim, maka sama dengan menghidupkannya. Dan barang
siapa ziarah kepada seorang Alim, maka sama dengan ziarah kepadaku (Nabi SAW).
Dan barang siapa berziarah kepadaku setelah aku wafat, maka wajib baginya mendapat
syafatku di Hari Qiyamat. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
